LOMBA DESAIN BATIK UNTUK MEMPERKUAT RASA CINTA GENERASI MUDA
Ponorogo dikenal masyarakat luas sebagai kota yang kaya akan khasanah budaya. Selain itu juga melekat sebutan kota santri, mengingat Ponorogo memiliki ratusan Pondok Pesantren yang tersebar di setiap desa, kecamatan, maupun di tiap sudut kota. Bahkan atas dasar itulah sebagian masyarakat menganggap perlu adanya rambu-rambu Islami di sepanjang jalan untuk memperkuat citra tersebut.
Dari segi budaya, Ponorogo identik dengan Kesenian Reyog yang secara rutin sebagai upaya untuk “nguri-uri budoyo bangso” setiap menjelang bulan Muharram diselenggarakan Festifal Reyog nasional (FRN) yang diikuti oleh banyak kontestan baik dari Ponorogo sendiri, bahkan tidak sedikit yang berasal dari luar Jawa, termasuk Sumatra maupun Kalimantan. Dari segi kuliner tidak kalah menariknya, Ponorogo memilki banyak jenis makanan favorite yang perlu dicoba. Diantaranya Sate ayam dan dawet jabung itulah yang menjadi top secret-nya. Dua komposisi makanan ini ditambah dengan beberapa hal yang “tidak biasa” semisal penyajian dawet jabung yang hanya menggunakan satu lepek (sejenis piring kecil untuk alas cangir atau mangkok) untuk banyak penyajian semakin memperkuat kesan bahwa Ponorogo sarat dengan budaya adiluhung.
Upaya untuk terus melestarikan budaya yang ada sekaligus menumbuhkembangkan kecintaan dari genarasi muda, sepertinya sedang dilakukan oleh mahasiswa fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Sabtu (05/03) para mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Manajemen Fak. Ekonomi mengadakan lomba desain batik khas Ponorogo. Sejarah mencatat jika Batik memang pernah jaya di kota Reyog ini, namun seiring dengan munculnya banyak kain batik yang dibuat mempergunakan mesin dengan harga yang lebih terjangkau dari pada batik tulis, perlahan namun pasti para pengrajin batik lokal Ponorogo mulai redup.
Lomba desain batik yang diselenggarakan mahasiswa UNMUH Ponorogo ini diikuti oleh 115 peserta yang berasal dari kelompok pelajar (SMP, SMA, Mahasiswa) sekaligus masyarakat umum. Para peserta didaulat untuk mengasilkan karya-karya batik yang original tanpa mengurangi ke khasan batik Ponorogo. Diantaranya corak dadak, merak dan barong. Sedangkan untuk pemilihan warna peserta diberi kebebasan untuk melakukan banyak kreasi dan mengkombinasikan warna sehingga menghasilkan paduan warna yang elok.
“Saya sangat berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa yang sudah ikut serta untuk menghidupkan kembali batik di kota Ponorogo. Dengan lomba desain ini para peserta diharapkan dapat berlomba-lomba menciptakan desain batik dengan corak Ponorogo,” ungkap Hj. Sulastri Amin Istri Bupati Ponorogo. Selain dihadiri oleh istri orang nomor satu di Ponorogo tersebut, terlihat juga Hj. Rudina Luhur karsanto istri Sekda Kabupaten Ponorogo.
Keluar sebagai pemenang dari kategori umum dan mahasiswa yakni Nindira Agustin perwakilan dari UNMUH Ponorogo diikuti Belenda Dewi Regina perwakilan dari UNESA serta Purwahyuni perwakilan dari umum. Sedangkan untuk kategori pelajar diraih oleh Dinaravony K wakil dari SMAN 1 Slahung juara II diraih oleh Hanifah dari SMAN 1 Badegan dan Juara III diraih oleh Bangga Dwi Putranto wakil dari SMAN 1 Ponorogo.
“Alhamdulillah, saya senang kegiatan ini berjalan dengan lancar. Semoga kami bisa terus berkontribusi untuk kemajuan kota tercinta ini,” ujar Very Setiawan ketua HMJ Manajemen Fak. Ekonomi UNMUH Ponorogo. (dok Humas)